Ibn Khaldun dalam magnum opusnya “Muqaddimah” menjelaskan tentang tahap-tahap timbul tenggelamnya suatu negara menjadi lima tahap, yaitu :
Tahap konsolidasi dimana otoritas negara dengan dasar "demokrasi" didukung oleh masyarakat (`ashabiyyah).
Tahap tirani.
Tahap penyalahgunan wewenang otoritas negara untuk kepentingan penguasa.
Tahap pengamanan dari munculnya ancaman dimana penguasa selalu memandang kelompok kritis sebagai lawan, dan
Tahap keruntuhan. dimana sistem kekuasaan tidak lagi berfungsi.
Tahap-tahap itu menurut Ibnu Khaldun memunculkan tiga generasi, yaitu:
Generasi Pembangun, yang dengan segala kesederhanaan dan solidaritas yang tulus tunduk dibawah otoritas kekuasaan yang didukungnya.
Generasi Penikmat, yakni mereka yang karena diuntungkan secara ekonomi dan politik dalam sistem kekuasaan , menjadi tidak peka lagi terhadap kepentingan bangsa dan negara.
Generasi yang tidak lagi memiliki hubungan emosionil dengan negara. Mereka dapat melakukan apa saja yang mereka sukai tanpa mempedulikan nasib negara. Jika suatu bangsa sudah sampai pada generasi ketiga ini, maka keruntuhan negara sebagai sunnatullah sudah di ambang pintu, dan menurut Ibnu Khaldun tiap proses ini berlangsung sekitar satu abad.
Menarik jika melihat kondisi bangsa kita tercinta ini, dimana Indeonesia merdeka pada tahun 1945. Dengan segala kesederhanan dan ketulusan membangun bangsa yang berdaulat, para pejuang kita dahulu membangun Indonesia dengan cucuran darah dan peluhan keringat perjuangan hingga akhirnya kita merdeka dan memproklamirkan diri menjadi Negara bersatu, berdaulat. Bolehlah kita menyebut masa ini sebagai masa/generasi pembangun.
Jika kita tarik mundur dari tahun sekarang 2007 menuju tahun 1945, maka kita telah menikmati 62 tahun masa kemerdekaan kita. Kita kaitkan dengan teori Ibn Khaldun bahwa tahapan timbul tenggelamnya suatu pemerintahan adalah 100 tahun atau satu abad, maka yang terlihat adalah keironian dimana belum seratus tahun kita merdeka/ membangun bangsa ini tetapi yang muncul adalah generasi ketiga, yaitu generasi yang tidak mempunyai hubungan emosional Negara, pemimpin yang hanya mementingkan pribadinya saja. Korupsi menjadi bagian hidup, kesenangan sesaat dianggap dewa, kemubafikan dimana-mana, tertawa diatas penderitaan orang lain, tidak meratanya pendapatan masyarakat, dll.
Kompleksitas, itulah keadaan Negara kita. Sampai-sampai, saking sudah pusingnya melihat kerusakan yang demikian, teman saya pernah berujar mending tidak usah terlahir jika hanya menghadapi keadaan bangsa yang morat marit ini. Segala nasehat baik yang melalui cara baik ataupun dengan anarki seolah tak membuat bergeming para “wakil rakyat” diatas. Mereka seolah Dewa yang untouchable, bebas melakukan apa saja walau itu keluar dari Nurani. Masa orde baru yang digantikan dengan era Reformasi seakan tak berdampak sedikitpun. Mereka yang dulu pengikut orde baru tak mau ketinggalan, bukan bertobat tetapi dengan berpura-pura baik. Hingga yang muncul bukan lagi bermuka dua(munafik) tetapi lebih dari itu bermuka tiga, empat, lima, sepuluh bahkan.
REVOLUSI, itulah yang menurut penulis layak dilakukan diIndonesia. Kita ambil contoh Negara Iran yang kini berkembang pesat setelah adanya revolusi. Dengan Revolusi kita mulai segalanya dari Nol. Kita hancurkan system yang selama ini awal kebobrokan Negara ini untuk kemudian kita buat system baru yang tidak memberi celah KKN. Kita pilih pemimpin-pemimpin yang hanya bermoral baik, berdedikasi tinggi dan loyalitas membantu rakyat yang sempurna. Semoga dengan hal ini kita bisa mewujudkan impian kita menuju bangsa yang adil dan makmur, amiin.
Wallahu a’lam bis showab.