Kamis, 13 Desember 2007

Hare gene ga' punya pacar?? ga' gaul ah!

Ya Allah…aku memohon agar Rangga bisa menerimaku kembali…Bisa mengerti jika kemaren hanya salah paham, dan aku tidak bermaksud menyakitinya. Ya Allah…aku benar-benar memohon, aku ingin dia kembali karena aku betul-betul mencintainya ya Allah…amiin ya rabbal ‘alamiin”


Ini adalah do’a sekaligus curhat pada Tuhan seorang ABG sesudah shalatnya disebuah Sinetron remaja kita. Dengan linangan air mata dan dengan penuh pengharapan pada Tuhannya ia curahkan isi hatinya karena baru saja dia diputuskan oleh pacarnya bernama Rangga.

Tidak ada yang salah dari perbuatannya berdo’a, tapi yang disesalkan sinetron remaja kita seolah mencoba membuat pandangan, atau juga legitimasi bahwa pacaran seperti yang tergambar dalam sinetron remaja tersebut adalah sesuatu yang biasa dan boleh serta sah-sah saja. Coba liat sinetron kita yang katanya Islami itu, tapi menurut penulis tak mencerminkan keIslmannya. Mereka hanya melihat pasar, dan terciptalah sinetron yang marketable tapi tak mendidik. Sinetron yang hanya menampilkan kekerasan, kebencian, iri dengki dan tentunya jauh dari nilai. Hal ini terjadi bukan hanya dalam sinetron yang “konvensional” tapi juga dalam sinetron “islami”. Diperparah dengan pemain-pemain sinetronnya yang –maaf- tidak sesuai antara penampilannya di Sinetron dengan kehidupan sehari-harinya.

Memang harus kita akui bahwa dunia entertainment kita kadang tak memperhatikan aturan, mereka hanya mementingkan kepentingan pribadi berupa penghasilan yang sebanyak-banyaknya tanpa berusaha menghasilkan entertain/ acara yang cerdas dan mendidik. Selain itu, selama ini kita juga belum bisa menghasilkan seorang Artis yang baik dan bersahaja semisal Siti Nurhaliza. Kita malah bangga dengan menghasilkan artis-artis karbitan yang hancur dari sisi Moral, padahal ketika mereka telah menjadi artis tak ayal mereka juga menjadi panutan, terutama bagi anak-anak muda.

Okelah, artis juga manusia, tapi apakah dengan alasan manusia yang juga bisa salah lantas dijadikan alasan untuk keluar dari Moral tanpa ada usaha untuk menunjukan dan menjadi panutan yang baik???.

Hal menarik jika kita kaitkan dengan prestasi Indonesia di SEA GAMES Thailand dimana Tim kita kesusahan mendapatkan gelar. Bahkan oleh Negara Vietnam yang kita tahu sebuah Negara yang baru berkembang kita kalah start dalam perolehan medali emas. Kita mudah sekali membuat artis-artis karbitan, tapi susah minta ampun untuk menciptakan Atlit-atlit hebat. Apa yang kurang dari Negara kita?

Kembali pada persoalan Sinetron, fenomena yang terjadi adalah sinetron kita telah membius anak-anak muda hingga virus-virus hedonisme, budaya borjuis, Individualis, kedengkian dan Instant dengan sangat mudah masuk menjalar dari pikiran hingga kehati mereka. Ngga’ gaul kalo ga’ punya Hp mahal, ngga’ gaul klo ga’ pernah jalan-jalan ke Mall, ngga’ gaul klo ga’ berpakaian seksi, dan istilah-istilah lainnya. Hare gene ga’ punya pacar??? Ga’ gaul ah…

Adalah bijak jika para entertainer dan produsen Film dan yang berhubungan dengan hal ini untuk lebih jeli dalam membuat acara. Jangan hanya mementingkan soal rating, tapi juga Moral. Ingat, anak muda adalah asset bangsa dan calon pembangun bangsa. Maju mundurnya Negara ini ada ditangan anak-anak muda, jika mereka sudah tercekoki dengan budaya Hedonisme, budaya Instant, dan Individualis, tak ayal lagi Negara kita yang sedang berkembang ini akan kembali lagi pada Negara terbelakang, padahal kita mempunyai SDA yang luar biasa dan SDM yang tak kalah.

Menyedihkan…jika ada tikus yang mati di Lumbung Padi.

Tidak ada komentar: