Kamis, 13 Desember 2007

Jadilah Muslim intelektual

“Jadilah Muslim Intelektual, bukan Intelektual Muslim”


Itulah nasehat Abi sebelum kepergianku ke Malang. Sejenak saya tertegun, apa sebenarnya maksud beliau tentang hal ini, apa ada perbedaan antara Muslim Intelektual dan Intelektual Muslim? Saya rasa sama saja, hanya perbedaan pengucapan.

Tapi lantas beliau melanjutkan dengan memberi keterangan bahwa di Indonesia ini banyak sekali Intelektual Muslim, yaitu mereka yang [maaf] hanya mengerti sedikit tentang Islam tetapi mereka bicara tentang Islam yang karena kedangkalannya tentang Islam kadang pemahamannya jauh dari esensinya atau paling tidak melenceng. Mereka seorang Ilmuan sehingga kadangkala apa yang diucapkannya mudah diiyakan oleh mereka yang menjadi muridnya atau pengikutnya. Dengan alasan bukti Ilmiah mereka mengobrak-abrik tatanan yang telah dibangun oleh para Ulama terdahulu yang menurut penulis sendiri Intelektual Muslim tersebut masih jauh dalam hal keilmuan dibanding dengan Para Ilmuan Muslim zaman dulu. Sebut saja Imam Al-Ghazali, Al-Farabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, dll. Sedang kita tahu bahwa para Ilmuan terdahulu melakukan risetnya berlandaskan keikhlasan, dan insya Allah tanpa tendensi dan bukan pula mencari sensasi.

Sedang Muslim Intelektual menurut beliau adalah mereka yang paham (bukan tahu) tentang Islam dan sumber ajarannya (Al-Qur’an dan Sunnah/Hadist). Selanjutnya mereka menda’wahkannya sesuai dengan perintah Rasul. Mereka seorang Muslim dengan pengetahuan yang luas bukan hanya dalam bidang keIslaman tapi juga bidang Ilmu lain seperti kedokteran, Fisika, Antropologi, sejarah, dll. Mereka inilah penerus generasi Ulama semacam Ibnu Rusyd, Al-Kindi, Al-Farabi,dll. Hingga semua penelitiannya dilandaskan pada keyakinan (Islam) dan Fitrah Manusia. Karena Islam bukan sebagai jalan menggapai akhirat semata, tetapi dunia dan akhirat.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa dijadikan cermin bagi kita semua. Any Comments?

Tidak ada komentar: