Jumat, 14 Desember 2007

Revolusi sebagai Solusi

Ibn Khaldun dalam magnum opusnya “Muqaddimah” menjelaskan tentang tahap-tahap timbul tenggelamnya suatu negara menjadi lima tahap, yaitu :

  1. Tahap konsolidasi dimana otoritas negara dengan dasar "demokrasi" didukung oleh masyarakat (`ashabiyyah).

  2. Tahap tirani.

  3. Tahap penyalahgunan wewenang otoritas negara untuk kepentingan penguasa.

  4. Tahap pengamanan dari munculnya ancaman dimana penguasa selalu memandang kelompok kritis sebagai lawan, dan

  5. Tahap keruntuhan. dimana sistem kekuasaan tidak lagi berfungsi.


Tahap-tahap itu menurut Ibnu Khaldun memunculkan tiga generasi, yaitu:

  1. Generasi Pembangun, yang dengan segala kesederhanaan dan solidaritas yang tulus tunduk dibawah otoritas kekuasaan yang didukungnya.

  2. Generasi Penikmat, yakni mereka yang karena diuntungkan secara ekonomi dan politik dalam sistem kekuasaan , menjadi tidak peka lagi terhadap kepentingan bangsa dan negara.

  3. Generasi yang tidak lagi memiliki hubungan emosionil dengan negara. Mereka dapat melakukan apa saja yang mereka sukai tanpa mempedulikan nasib negara. Jika suatu bangsa sudah sampai pada generasi ketiga ini, maka keruntuhan negara sebagai sunnatullah sudah di ambang pintu, dan menurut Ibnu Khaldun tiap proses ini berlangsung sekitar satu abad.

Menarik jika melihat kondisi bangsa kita tercinta ini, dimana Indeonesia merdeka pada tahun 1945. Dengan segala kesederhanan dan ketulusan membangun bangsa yang berdaulat, para pejuang kita dahulu membangun Indonesia dengan cucuran darah dan peluhan keringat perjuangan hingga akhirnya kita merdeka dan memproklamirkan diri menjadi Negara bersatu, berdaulat. Bolehlah kita menyebut masa ini sebagai masa/generasi pembangun.

Jika kita tarik mundur dari tahun sekarang 2007 menuju tahun 1945, maka kita telah menikmati 62 tahun masa kemerdekaan kita. Kita kaitkan dengan teori Ibn Khaldun bahwa tahapan timbul tenggelamnya suatu pemerintahan adalah 100 tahun atau satu abad, maka yang terlihat adalah keironian dimana belum seratus tahun kita merdeka/ membangun bangsa ini tetapi yang muncul adalah generasi ketiga, yaitu generasi yang tidak mempunyai hubungan emosional Negara, pemimpin yang hanya mementingkan pribadinya saja. Korupsi menjadi bagian hidup, kesenangan sesaat dianggap dewa, kemubafikan dimana-mana, tertawa diatas penderitaan orang lain, tidak meratanya pendapatan masyarakat, dll.

Kompleksitas, itulah keadaan Negara kita. Sampai-sampai, saking sudah pusingnya melihat kerusakan yang demikian, teman saya pernah berujar mending tidak usah terlahir jika hanya menghadapi keadaan bangsa yang morat marit ini. Segala nasehat baik yang melalui cara baik ataupun dengan anarki seolah tak membuat bergeming para “wakil rakyat” diatas. Mereka seolah Dewa yang untouchable, bebas melakukan apa saja walau itu keluar dari Nurani. Masa orde baru yang digantikan dengan era Reformasi seakan tak berdampak sedikitpun. Mereka yang dulu pengikut orde baru tak mau ketinggalan, bukan bertobat tetapi dengan berpura-pura baik. Hingga yang muncul bukan lagi bermuka dua(munafik) tetapi lebih dari itu bermuka tiga, empat, lima, sepuluh bahkan.

REVOLUSI, itulah yang menurut penulis layak dilakukan diIndonesia. Kita ambil contoh Negara Iran yang kini berkembang pesat setelah adanya revolusi. Dengan Revolusi kita mulai segalanya dari Nol. Kita hancurkan system yang selama ini awal kebobrokan Negara ini untuk kemudian kita buat system baru yang tidak memberi celah KKN. Kita pilih pemimpin-pemimpin yang hanya bermoral baik, berdedikasi tinggi dan loyalitas membantu rakyat yang sempurna. Semoga dengan hal ini kita bisa mewujudkan impian kita menuju bangsa yang adil dan makmur, amiin.

Wallahu a’lam bis showab.

Kamis, 13 Desember 2007

Hare gene ga' punya pacar?? ga' gaul ah!

Ya Allah…aku memohon agar Rangga bisa menerimaku kembali…Bisa mengerti jika kemaren hanya salah paham, dan aku tidak bermaksud menyakitinya. Ya Allah…aku benar-benar memohon, aku ingin dia kembali karena aku betul-betul mencintainya ya Allah…amiin ya rabbal ‘alamiin”


Ini adalah do’a sekaligus curhat pada Tuhan seorang ABG sesudah shalatnya disebuah Sinetron remaja kita. Dengan linangan air mata dan dengan penuh pengharapan pada Tuhannya ia curahkan isi hatinya karena baru saja dia diputuskan oleh pacarnya bernama Rangga.

Tidak ada yang salah dari perbuatannya berdo’a, tapi yang disesalkan sinetron remaja kita seolah mencoba membuat pandangan, atau juga legitimasi bahwa pacaran seperti yang tergambar dalam sinetron remaja tersebut adalah sesuatu yang biasa dan boleh serta sah-sah saja. Coba liat sinetron kita yang katanya Islami itu, tapi menurut penulis tak mencerminkan keIslmannya. Mereka hanya melihat pasar, dan terciptalah sinetron yang marketable tapi tak mendidik. Sinetron yang hanya menampilkan kekerasan, kebencian, iri dengki dan tentunya jauh dari nilai. Hal ini terjadi bukan hanya dalam sinetron yang “konvensional” tapi juga dalam sinetron “islami”. Diperparah dengan pemain-pemain sinetronnya yang –maaf- tidak sesuai antara penampilannya di Sinetron dengan kehidupan sehari-harinya.

Memang harus kita akui bahwa dunia entertainment kita kadang tak memperhatikan aturan, mereka hanya mementingkan kepentingan pribadi berupa penghasilan yang sebanyak-banyaknya tanpa berusaha menghasilkan entertain/ acara yang cerdas dan mendidik. Selain itu, selama ini kita juga belum bisa menghasilkan seorang Artis yang baik dan bersahaja semisal Siti Nurhaliza. Kita malah bangga dengan menghasilkan artis-artis karbitan yang hancur dari sisi Moral, padahal ketika mereka telah menjadi artis tak ayal mereka juga menjadi panutan, terutama bagi anak-anak muda.

Okelah, artis juga manusia, tapi apakah dengan alasan manusia yang juga bisa salah lantas dijadikan alasan untuk keluar dari Moral tanpa ada usaha untuk menunjukan dan menjadi panutan yang baik???.

Hal menarik jika kita kaitkan dengan prestasi Indonesia di SEA GAMES Thailand dimana Tim kita kesusahan mendapatkan gelar. Bahkan oleh Negara Vietnam yang kita tahu sebuah Negara yang baru berkembang kita kalah start dalam perolehan medali emas. Kita mudah sekali membuat artis-artis karbitan, tapi susah minta ampun untuk menciptakan Atlit-atlit hebat. Apa yang kurang dari Negara kita?

Kembali pada persoalan Sinetron, fenomena yang terjadi adalah sinetron kita telah membius anak-anak muda hingga virus-virus hedonisme, budaya borjuis, Individualis, kedengkian dan Instant dengan sangat mudah masuk menjalar dari pikiran hingga kehati mereka. Ngga’ gaul kalo ga’ punya Hp mahal, ngga’ gaul klo ga’ pernah jalan-jalan ke Mall, ngga’ gaul klo ga’ berpakaian seksi, dan istilah-istilah lainnya. Hare gene ga’ punya pacar??? Ga’ gaul ah…

Adalah bijak jika para entertainer dan produsen Film dan yang berhubungan dengan hal ini untuk lebih jeli dalam membuat acara. Jangan hanya mementingkan soal rating, tapi juga Moral. Ingat, anak muda adalah asset bangsa dan calon pembangun bangsa. Maju mundurnya Negara ini ada ditangan anak-anak muda, jika mereka sudah tercekoki dengan budaya Hedonisme, budaya Instant, dan Individualis, tak ayal lagi Negara kita yang sedang berkembang ini akan kembali lagi pada Negara terbelakang, padahal kita mempunyai SDA yang luar biasa dan SDM yang tak kalah.

Menyedihkan…jika ada tikus yang mati di Lumbung Padi.

Qira'at Sab'ah

Apa sih sebenarnya Qira'at Sab'ah itu? kenapa ada tujuh? Termasuk manakah bacaan Al-quran kita selama ini? dll. Pertanyaan-pertanyaan ini bisa kita dapatkan di Artikel doc sederhana ini. Silahkan download file link dibawah ini, mudah-mudahan bermanfaat.
http://www.savefile.com/files/1245278

Menjawab Pandangan Orientalis tentang Hadist

Hadist atau Sunnah adalah apa-apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, Takrir (ketentuan), maupun hal ihwal Nabi. Semua Ulama dan Muslim sepakat bahwa Hadist merupakan sumber Islam yang kedua sesudah Al-quran, sebagai sumber maka apa yang ada didalamnya patut kita laksanakan.

Tetapi para pembenci Islam dan Orientalis berusaha mencari kelemahan Hadist dengan mengatakan bahwa hadist tidak perlu diikuti lantaran penulisan hadist adalah 3 abad sesudah Nabi wafat. Sehingga menurut mereka kesahihan hadist tidak bisa diterima apalagi sampai diamalkan.

Mari kita kaji sedikit tentang bagaimana penulisan Hadist oleh para Ulama kita dahulu. Bahwa para sahabat sebagai Muslim yang kita tidak ragukan lagi keimanannya menerima hadist langsung dari Rasul. Kemudian mereka menghafal dan menulisnya setelah Rasul menyampaikanya pada mereka dalam majelis-majelis. Mereka yang hadir kemudian meriwayatkannya pada mereka yang tidak hadir, dan begitulah seterusnya kegiatan ini berlangsung hingga pada masa masa berikutnya.

Begitu pula pada masa Tabi’in (masa sesudah para sahabat Rasul), mereka menyampaikan Hadist kepada orang lain dengan hati-hati. Para ulama yang menerima riwayat hadist inipun tidak serta merta menerimanya, tetapi mereka selalu mengecek kebenaranya dengan cara meneliti dari siapa ia mendapatkan hadist tersebut dan bagaimana ketsiqahan orang tersebut. Sehingga jika telah benar-benar yakin dengan kebenaranya maka sebuah hadist tersebut diterima. Para ahli Hadist sangat berhati-hati dalam menerima dan mengambil sebuah Hadist, mereka akan menerima sebuah Hadist jika sudah jelas betul kebenaran sanadnya. Diceritakan bahwa Ali bin Abi Talib tidak akan menerima Hadist sebelum perawinya disumpah bahkan kadang harus menghadirkan saksi. Dan inilah yang disebut dengan metode sanad, sebuah metode dalam Ilmu hadist yang dilakukan oleh para Muhadditsin dalam menulis, dan menyebarkan hadist.

Ibnu Shalah (wafat 643H) mengatakan tentang kesahihan Hadist :

“Hadist sahih adalah Hadist yang bersambung sanadnya (sampai kepada Nabi), diriwayatkan oleh Periwayat yang ‘Adl dan Dzabit sampai akhir sanad, dan dalam Hadist ini tidak terdapat kejanggalan (syuzuz) dan cacat (illat).”

Dari pandangan Ibnu Shalah tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa syarat-syarat diterimanya sanad adalah “Ittisal as-sanad” (bersambungnya sanad) hingga Rasul SAW serta diriwayatkan oleh perawi yang ‘Adl (adil) dan Dzabit (kuat hafalan).

Lebih jauh Drs. H. Muhammad Ahmad dan Drs. M. Mudzakir menerangkan bahwa yang dimaksud dengan Ittisallu assanad (bersambungnya sanad) berarti sanad itu bersambung hingga pada sahabat, kemudian marfu’ yaitu bersandar pada Rasul, terhindar dari Syuzuz (kejanggalan),[1] dan tidak terdapat illat (cacat)[2] pada sanad.

Sedang rincian dari pengertian ‘adil adalah perawi harus beragama Islam, mukallaf (baligh dan berakal sehat), taat melaksanakan ajaran Islam, dan selalu menjaga muruah (kesopanan pribadi dan masyarakat).

Dan pengertian dari dzabit adalah perawi hafal dengan baik Hadist yang diriwayatkannya.Mampu dengan baik menyampaikan riwayat Hadist yang dihafalnya kepada orang lain. Terhindar dari syuzuz (kejanggalan) dan illat (cacat).

Muhammad Al-Ghazali mengatakan bahwa sifat ‘Adl dan Dhabit harus dimiliki oleh setiap perawi, hingga jika salah satu saja dari sifat tersebut tidak ada dalam perawi maka Hadist yang diriwayatkannya tidak mencapai derajat Shahih.

Dari sini kita bisa menilai bahwa proses pengambilan dan penerimaan Hadist begitu ketatnya hingga kemungkinan untuk terjadi penyelewengan Hadist sangat kecil, walau tidak menutup kemungkinan terbuka peluang untuk itu. Maka sebuah kesalahan bagi mereka yang tidak mau menerima keberadaan sunnah sebagai sumber ajaran kedua Islam. Juga salah jika orang-orang barat mengatakan Hadist/sunnah bersifat dzanni (diliputi keragu-raguan) hingga tidak bisa dijadikan sumber Akidah dan Syari’ah.

Seorang orientalis berkebangsaan Austria yaitu Dr. Leopold Weisa bahkan mengakui metode yang dilakukan Muhadditsin dalam mentahqiq Hadist yang bertujuan mencari kebenaran isi kandungan Hadist telah melahirkan sebuah Ilmu (Ushulul Hadist)dengan cabang-cabangnya yang komplit, dan inilah metode terbaik dan ilmiah.

Semoga tulisan singkat dan sederhana ini bisa menenangkan hati kita dari keragu-raguan akan Hadist yang selalu dilontarkan para Orientalis.

Jadilah Muslim intelektual

“Jadilah Muslim Intelektual, bukan Intelektual Muslim”


Itulah nasehat Abi sebelum kepergianku ke Malang. Sejenak saya tertegun, apa sebenarnya maksud beliau tentang hal ini, apa ada perbedaan antara Muslim Intelektual dan Intelektual Muslim? Saya rasa sama saja, hanya perbedaan pengucapan.

Tapi lantas beliau melanjutkan dengan memberi keterangan bahwa di Indonesia ini banyak sekali Intelektual Muslim, yaitu mereka yang [maaf] hanya mengerti sedikit tentang Islam tetapi mereka bicara tentang Islam yang karena kedangkalannya tentang Islam kadang pemahamannya jauh dari esensinya atau paling tidak melenceng. Mereka seorang Ilmuan sehingga kadangkala apa yang diucapkannya mudah diiyakan oleh mereka yang menjadi muridnya atau pengikutnya. Dengan alasan bukti Ilmiah mereka mengobrak-abrik tatanan yang telah dibangun oleh para Ulama terdahulu yang menurut penulis sendiri Intelektual Muslim tersebut masih jauh dalam hal keilmuan dibanding dengan Para Ilmuan Muslim zaman dulu. Sebut saja Imam Al-Ghazali, Al-Farabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, dll. Sedang kita tahu bahwa para Ilmuan terdahulu melakukan risetnya berlandaskan keikhlasan, dan insya Allah tanpa tendensi dan bukan pula mencari sensasi.

Sedang Muslim Intelektual menurut beliau adalah mereka yang paham (bukan tahu) tentang Islam dan sumber ajarannya (Al-Qur’an dan Sunnah/Hadist). Selanjutnya mereka menda’wahkannya sesuai dengan perintah Rasul. Mereka seorang Muslim dengan pengetahuan yang luas bukan hanya dalam bidang keIslaman tapi juga bidang Ilmu lain seperti kedokteran, Fisika, Antropologi, sejarah, dll. Mereka inilah penerus generasi Ulama semacam Ibnu Rusyd, Al-Kindi, Al-Farabi,dll. Hingga semua penelitiannya dilandaskan pada keyakinan (Islam) dan Fitrah Manusia. Karena Islam bukan sebagai jalan menggapai akhirat semata, tetapi dunia dan akhirat.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa dijadikan cermin bagi kita semua. Any Comments?

Menolong Allah

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.

Dulu penulis pernah bertanya dalam hati, mungkin pertanyaan ini terlalu provokatif. Tapi penulis beranggapan hal ini wajar, bukankah untuk mencapai tingkat keimanan yang tinggi kita harus mengetahui sejelas-jelsnya hal yang kita Imani itu? Bukan hanya taklid, tetapi kita harus paham.

Pertanyaanya adalah bagaimana sih cara kita menolong Allah? Bukankan Allah itu Tuhan yang maha kuasa, tapi kenapa dalam ayat-Nya ada pernyataan jika kamu menolongku maka aku akan menolongmu. Apa yang bisa kita perbuat untuk membantu Allah?. Pertanyaan ini semakin lama semakin menjadi.

Hingga akhirnya pertanyaan ini terjawab juga ketika seorang Kiyai menerangkan bahwa maksud dari menolong Allah adalah kita berda’wah menegakkan Kalimah Allah dimana saja kita berada (berda’wah). Sesuai dengan hadist Rasul “ Dibumi mana saja kamu tinggal, maka kamu wajib atas keIslamannya”.

Berda’wah adalah bentuk dari menolong Allah, selain kita taat melaksanakan segala perintah dan larangan-Nya. Guru penulis pun dulu pernah bernasehat bahwa dalam kehidupan di dunia ini kita tidak boleh sedikitpun takut akan kekurangan rizki, karena selama kita masih taat dan “menolong” Allah maka hidup kita pasti dijamin olehNya. Rizki bukan selalu dalam bentuk harta/ materi, tetapi kesehatan, kemauan, kekuatan, keihlasan, dan tetap dalam jalan-Nya merupakan rizki yang tak ternilai harganya.

“sampaikanlah walau hanya satu ayat”.Mari kita isi hidup kita ini dengan selalu berda’wah demi tegaknya Agama Allah dimuka bumi ini. Selamat Berjuang!

Jahiliyah Bukan Bodoh

Kita pasti sudah tahu dan mungkin ini yang diajarkan dalam materi agama Islam di sekolah kita dulu bahwa bangsa Arab sebelum islam datang adalah Jahiliyah. Kita mungkin menangkap kata-kata Jahiliyah ini dengan bodoh, tidak bisa membaca, dan tidak mempunyai pengetahuan ilmiah.

Tapi coba kita berfikir sejenak. Bukankah bangsa Arab sebelum Nabi Muhammad SAW terkenal dengan kemahiran dibidang Sya’ir? Tidakkah kita tahu bahwa bangsa Arab adalah mereka yang selalu menjaga tradisi dengan menghafal runtutan nasab mereka hingga runtutan yang sejauhnya?. Jadi apakah mereka bisa dikatakan bodoh dalam pengertian kita selama ini? Jawabannya TIDAK.

Jahiliyah dalam hal ini bermakna tidak menggunakan hati dan pikiran mereka. Masih ingat lagu Bimbo “bermata tapi tak melihat, bertelinga tapi tak mendengar”. Seperti itulah gambaran Jahiliyah, mereka tahu itu salah tetapi kekerasan, kesombongan, prestige, jabatan, dan tujuan mengalahkan segalanya. Ajaran Nabi Ibrahim AS kepada mereka tidak diindahkan sedikitpun. Perempuan hanya dijadikan budak pemuas, anak-anak ditelantarkan. Yang ada hanya peperangan mencapai tujuan.

Meminjam idenya Ibnu Khaldun bahwa “kejadian masa sekarang adalah pengulangan masa yang lalu dengan frame yang berbeda”. Maka boleh jadi Jahiliyah pada zaman

Arab pra Islam akan dan bahkan terjadi pada zaman modern ini. Kita banyak menyaksikan bagaimana orang-orang yang terkenal dengan kecerdasan, keintelektualan mereka tapi dengan semena-mena berbuat seenaknya saja demi mencapai suatu tujuan. Mereka bukan bodoh, tetapi membodohi diri sendiri. Mereka bukan tidak tahu, tapi pura-pura tidak tahu. Dengan kecerdasannya mereka membodohi masyarakat, dengan kekuasaanya mereka memperbudak rakyat. Lebih parah lagi, kadang Agama menjadi alat legitimasi dari kebrutalan mereka.

Nastaghfirullah, semoga kita termasuk orang yang selalu diberi cahaya dan petunjuk yang lurus. Sehingga kita tidak menjadi manusia Jahiliyah Modern. Terima kasih pada teman-teman atas masukanya tentang hal ini.

Menutup Aurat

Beberapa bulan yang lalu ku ketemu seseorang, trus beliau bicara banyak. Salah satunya yang kutulis ini.
Kriteria Menutup Aurat dalam Islam:
1. Tertutup Laun اللون (warna).
2. Tertutup Syakl الشكل (bentuk).
Menutup Laun (warna) maksudnya bahwa anggota tubuh kita haruslah benar-benar tertutup dengan kain yang tebal. Maksudnya, ketika seseorang telah menutup anggota auratnya tapi masih transparan kain yang menutupnya, maka itu belum dikatakan menutup aurat.

Menutup Syakl (bentuk) maksudnya adalah anggota tubuh kita haruslah benar-benar tertutup dengan kain yang tidak sempit sehingga memperlihatkan lekak-lekuk aurat kita. Sehingga ketika kita berpakaian dengan pakaian ketat, maka sungguh kita telah mengumbar aurat bagi umum.

Jadi, berpegang teguhlah pada Agama dengan Kaffah.